Senin, 13 Oktober 2025

Foto Muda Soeharto dan Kisah Awal Masuk di TNI


Foto muda Pak Harto 
Karir Militer
Pada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.

Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Saat Perang Dunia II berkecamuk pada 1942, ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu. Setelah berpangkat sersan tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton, komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.

Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap menjadi Komandan Brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda Mataram dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Kemudian, ia ditunjuk sebagai Komadan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota dari gangguan eks KNIL/KL.

Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yang berhasil menduduki Kota Yogyakarta  selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Letkol Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada.

Pada usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro di Semarang. Dari Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel.


5 Tanda Kamu Mulai Punya Mental Kaya

Banyak orang mengukur kekayaan dari jumlah angka di rekening, padahal kekayaan sejati dimulai jauh sebelum itu, yaitu di cara berpikir. Mental kaya tidak muncul ketika uang datang, tetapi justru ketika seseorang mulai mengubah hubungan batinnya dengan uang, waktu, dan nilai dirinya.

Dalam buku The Millionaire Mind karya Thomas J. Stanley dijelaskan bahwa orang-orang sukses memiliki pola pikir yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka fokus pada nilai, bukan sekadar penghasilan. Sementara itu, T. Harv Eker dalam Secrets of the Millionaire Mind menulis bahwa kekayaan sejati dimulai ketika seseorang berhenti berpikir kekurangan dan mulai berpikir kelimpahan.

Berikut lima tanda kamu sebenarnya sudah mulai memiliki mental kaya, meski saldo di rekening belum sebesar impianmu.

1. Kamu tidak malu hidup sederhana.

Orang dengan mental miskin sering merasa perlu terlihat sukses, sedangkan orang dengan mental kaya lebih fokus pada membangun fondasi finansialnya. Mereka tidak malu naik kendaraan umum, menunda belanja, atau menolak gaya hidup pamer.

Kamu tahu bahwa hidup sederhana bukan berarti miskin, melainkan cara untuk menjaga fokus dan menyiapkan diri untuk masa depan yang lebih stabil. Kesadaran ini adalah langkah awal menuju kebebasan finansial sejati.

2. Kamu mulai memikirkan nilai, bukan harga.

Dulu kamu mungkin memilih sesuatu karena murah, sekarang kamu memilih karena bermanfaat dan tahan lama. Orang dengan mental kaya melihat uang sebagai alat untuk menciptakan nilai, bukan sekadar alat belanja.

Kamu mulai sadar bahwa membeli barang berkualitas lebih hemat daripada sering mengganti yang murahan. Prinsip yang sama berlaku pada waktu dan tenaga: kamu tidak lagi menghabiskannya untuk hal yang tidak memberi makna.

3. Kamu berani membicarakan uang tanpa rasa takut.

Bagi banyak orang, uang adalah topik sensitif. Tapi kamu mulai berani belajar dan berdiskusi tentangnya, baik soal investasi, pengelolaan gaji, atau rencana keuangan.

Kamu tidak lagi menolak kenyataan tentang uang, melainkan berusaha memahaminya. Sikap terbuka ini adalah tanda kedewasaan finansial, karena orang yang berani membicarakan uang dengan jujur biasanya juga berani bertanggung jawab atas hidupnya.

4. Kamu mulai menghargai waktu seperti uang.

Orang dengan mental kaya tahu bahwa waktu adalah aset paling berharga. Kamu mulai sadar bahwa waktu yang dihabiskan untuk hal sia-sia sama dengan kehilangan potensi keuntungan.

Kamu belajar menolak ajakan yang tidak perlu, mengatur jadwal dengan disiplin, dan memilih pekerjaan yang memberi pengalaman atau peluang jangka panjang. Inilah cara berpikir orang yang menanam sebelum memanen.

5. Kamu tidak iri melihat kesuksesan orang lain.

Daripada merasa kalah, kamu justru penasaran bagaimana orang lain bisa berhasil. Kamu mulai mengubah iri menjadi inspirasi, dan mengganti perbandingan menjadi pembelajaran.

Orang dengan mental kaya tidak melihat kesuksesan sebagai kompetisi, tapi sebagai bukti bahwa hal besar mungkin dicapai jika terus belajar dan bekerja dengan sabar. Dari sudut pandang inilah, kamu mulai berpikir seperti pemenang.

____
Mental kaya tidak diukur dari seberapa banyak yang kamu miliki, tapi dari seberapa dalam kamu memahami nilai dari setiap hal yang kamu punya. Saat kamu bisa hidup sederhana, berpikir panjang, dan menghargai waktu serta proses, berarti kamu sudah lebih kaya daripada yang kamu kira.

Saldo bisa naik turun, tapi cara berpikir adalah aset yang tumbuh seiring kedewasaanmu. Dan di situlah, kekayaan sejati mulai terbentuk.

Selasa, 07 Oktober 2025

“𝐑𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐆𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐌𝐮𝐫𝐢𝐝”

“𝐑𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐆𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐌𝐮𝐫𝐢𝐝”

𝐆𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐜𝐚𝐡,
𝐚𝐢𝐫 𝐡𝐢𝐤𝐦𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐬𝐢𝐚-𝐬𝐢𝐚,
𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐦𝐮𝐫𝐢𝐝 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚,
𝐚𝐝𝐚𝐛 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐛𝐮 𝐤𝐚𝐭𝐚.

𝐌𝐚𝐭𝐚𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐠𝐮𝐫𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐧𝐚𝐫 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠,
𝐧𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐭𝐢𝐫𝐚𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠,
𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐮𝐫𝐢𝐝 𝐩𝐮𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠,
𝐠𝐞𝐥𝐚𝐩, 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧, 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐜𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠.

𝐒𝐮’𝐮𝐥 𝐚𝐝𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐫𝐚𝐜𝐮𝐧 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬,
𝐦𝐞𝐫𝐚𝐜𝐮𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐢𝐡 𝐝𝐳𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐚𝐦,
𝐢𝐚 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐥𝐚𝐲𝐮,
𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐫𝐚𝐩𝐮𝐡.

𝐒𝐲𝐞𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐐𝐨𝐝𝐢𝐫 𝐀𝐥-𝐉𝐚𝐢𝐥𝐚𝐧𝐢, 𝐐.𝐒., 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧:
"𝐽𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑔𝑢𝑟𝑢𝑚𝑢,
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑏 𝑠𝑎𝑡𝑢 ℎ𝑒𝑙𝑎𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑝𝑎𝑠 𝑑𝑢𝑟ℎ𝑎𝑘𝑎,
𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑡𝑢𝑝 𝑠𝑒𝑟𝑖𝑏𝑢 𝑝𝑖𝑛𝑡𝑢 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎."

𝐈𝐦𝐚𝐦 𝐚𝐥-𝐆𝐡𝐚𝐳𝐚𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚:
"𝐵𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑚𝑒ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑢𝑟𝑠𝑦𝑖𝑑𝑛𝑦𝑎,
𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑖𝑙𝑚𝑢,
𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖𝑝𝑢𝑛 𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑓𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑟𝑖𝑏𝑢 𝑘𝑖𝑡𝑎𝑏."

𝐈𝐦𝐚𝐦 𝐀𝐛𝐮 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐬𝐲-𝐒𝐲𝐚𝐝𝐳𝐢𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧:
"𝐴𝑑𝑎𝑏 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑟𝑖𝑑 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑎ℎ𝑘𝑜𝑡𝑎,
𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑚𝑎ℎ𝑘𝑜𝑡𝑎 𝑖𝑡𝑢,
𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛."

𝐌𝐚𝐤𝐚 𝐦𝐮𝐫𝐢𝐝,
𝐣𝐚𝐠𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐝𝐚𝐛𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐧𝐲𝐚𝐰𝐚𝐦𝐮,
𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐥𝐚𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐭𝐮𝐬,
𝐭𝐚𝐥𝐢 𝐜𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐦𝐮
𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐮𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚t
FB-ABN

Kamis, 02 Oktober 2025

Nasehat Abah Guru Sekumpul "Jika Anak Kita ingin Menjadi Alim Ulama ataupun Waliyullah" Ini Beberapa Jalannya ;

Dalam Manaqibnya, Abah Guru Sekumpul memiliki wasiat dalam mendidik anak. 
Beliau berkata: "Kalau kita ingin punya anak wali, setidaknya anak kita jadi orang saleh dan berilmu serta berakhlak mulia, maka yang harus dilakukan orangtuanya adalah sebagai berikut: 

1. Menjaga Makanan yang Halal Sebelum istri kita hamil, hendaknya kita menjaga istri kita untuk memakan makanan yang halal agar terhindar dari makanan yang haram dan syubhat. Ini adalah modal paling utama untuk memperoleh anak yang saleh. Karena ini termasuk menjaga perut dari segala yang haram dan yang syubhat. Riba itu termasuk haram. Jadi duit yang kita belikan makanan untuk istri dan anak kita adalah duit yang halal tidak mengandung unsur riba sedikitpun. Dan yang syubhat itu maksudnya yang tidak tahu asal usulnya apakah ini halal atau haram. Maka dari itu, kita harus menjaga makanan yang masuk ke perut istri kita cukup makanan yang halal. Jangan memberi makanan yang syubhat sekalipun, apalagi yang haram. 

2. Membaca Sholawat Ketika Istri Hamil Di kala istri kita hamil 2 bulan, yang kita lakukan adalah rajin membacakan sholawat sebelum tidur setiap malam sambil memegang perut istri. Hal ini kita lakukan mulai istri kita mengandung 2 bulan sampai melahirkan. Sholawat apa saja dan setelah membaca sholawat diakhiri dengan tawasshul wali-wali.

3. Sering-sering Membaca Al-Qur'an Rajin-rajinlah dan sering-seringlah membaca Al-Qur'an di hadapan istri yang sedang hamil. Karena kalau kita sering membaca Al-Qur'an, insya Allah anak kita sejak kecil sampai tua dia suka membaca Al-Qur'an, bahkan bisa hafal Al-Qur'an karena berkah dari Al-Qur'an. 

4. Sering-sering Melihat Foto Ulama, banyak-banyaklah melihat foto/gambar para Waliyullah.Foto wali-wali harus ada di rumah kita. Bila hendak tidur, kita pandangi foto tersebut lalu bacakan Surah Al-Fatihah dan hadiahkan untuk wali yang di foto tadi namanya si fulan bin si fulan. Lakukanlah selama kita hidup. Fadhilahnya anak akan menjadi wali. Bila tidak, maka cucu yang menjadi wali, hingga ke bawah terus. Yang jelas keturunan pasti ada yang jadi wali berkat kecintaan kepada wali.

5. Amalkan Ini Ketika Anak Lahir Yang kita lakukan saat anak kita terlahir yakni buka mulutnya sambil membaca "Allahumma Faqqihhu Fiddin Wa 'Allimhut Ta'wil". (Ya Allah berilah ia ilmu agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ilmu takwil/tafsir Al-Qur'an). Kemudian azankan di telinga kanan dan iqomahkan di telinga kiri. Setelah itu kita bacakan Surah Al-Qodar sebanyak 7 kali dan tawasshul kepada Rasulullah SAW: "Ummat engkau lahir, jadikanlah anak ini mendapatkan Nuur dari engkau wahai Rasulullah SAW." 

6. Selalu Mendoakan Anak yang Baik-baik Kita doakan terus menerus dengan doa yang baik-baik sambil bertawasshul kepada wali-wali. Dengan berkat wali mudah-mudahan anak tersebut jadi wali dan anak yang saleh. 

7. Berilah Nama Anak Kita dengan Nama Orang-orang Saleh Berilah nama yang baik pada anak kita sesuai nama-nama orang saleh. Apabila anak itu laki-laki beri ia nama permulaannya dengan awalan Muhammad atau Ahmad. Nama Muhammad adalah nama Rasulullah di bumi dan Ahmad adalah nama Rasulullah di langit. Orang yang di dalam rumahnya ada yang bernama Muhammad atau Ahmad maka rumahnya tidak akan faqir, tidak akan kelaparan. Keberkahan akan selalu mengalir ke dalam rumah tersebut berkat Rasulullah SAW. Kemudian, teruslah bersyukur kepada Allah. Demikian wasiat Abah Guru Sekumpul agar memperoleh anak yang saleh. Semoga berkat Syafaatnya Rasulullah SAW, kita semua terkumpul bersama beliau dan bersama golongan orang yang saleh/salehah.

Sumber: Manaqib Abah Guru Sekumpul


Rabu, 01 Oktober 2025

11 Tanda Kehadiran Kita Dianggap Sebagai Ancaman dalam Dunia Kerja

Ini adalah situasi yang sangat spesifik dan sensitif. Merasa kehadiran Anda dianggap sebagai ancaman oleh rekan kerja (atau atasan) dapat menjadi indikator lingkungan kerja yang kompetitif dan tidak sehat. Hal ini sering muncul ketika Anda dianggap sebagai penghalang bagi kecemerlangan karier orang lain.

Berikut adalah beberapa tanda spesifik yang menunjukkan bahwa kehadiran Anda dianggap sebagai ancaman yang menghambat karier orang lain:

1. Kritik berlebihan dan menjatuhkan di depan umum. Anda sering dikritik tajam atau diremehkan di depan umum, bahkan untuk kesalahan kecil. Tujuannya adalah merusak reputasi dan kredibilitas Anda.

2. Mengambil keuntungan dari ide anda. Ide atau solusi yang Anda ajukan dicuri, diubah sedikit, lalu diajukan oleh orang lain tanpa mencantumkan nama Anda (atau mereka mengklaimnya sebagai ide mereka sendiri).

3. Penugasan Tugas yang Tidak Realistis/Gagal. Anda diberikan tugas atau tanggung jawab dengan sumber daya yang minim, tenggat waktu yang mustahil, atau penugasan yang memang dirancang untuk gagal (set up to fail) agar Anda terlihat tidak kompeten.

4. Penyembunyian Informasi. Rekan kerja sengaja tidak memberikan data, update, atau detail penting yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan tugas dengan sukses. Ini dilakukan agar hasil kerja Anda terlihat kurang maksimal.

5. Dikeluarkan dari Lingkaran Kekuasaan (Inner Circle). Anda tidak pernah dilibatkan dalam pertemuan informal, diskusi, atau proyek yang dapat memberikan eksposur atau akses untuk berkembang. 

6. Gosip dan Kampanye Negatif (Smear Campaign). Orang-orang menyebarkan rumor, informasi palsu, atau spekulasi tentang etika kerja, kehidupan pribadi, atau niat Anda kepada orang lain.

7. Sikap Pembatasan (Terutama dari Atasan). Atasan mulai melakukan micromanagement atau, sebaliknya, mengabaikan Anda secara total (ghosting) agar Anda tidak mendapatkan bimbingan atau peluang untuk berkembang.

8. Menghalangi Peluang Pengembangan. Upaya dan kesempatan Anda untuk bisa tampil menonjol dalam kegiatan, acara,  pelatihan, kursus, atau proyek bergengsi dihilangkan tanpa alasan yang jelas, karena kesempatan itu justru diinginkan oleh pihak yang merasa terancam.

9. Reaksi yang Dingin terhadap Kesuksesan Anda. Ketika Anda mencapai sesuatu, rekan kerja tidak menunjukkan kegembiraan atau dukungan. Sebaliknya, mereka menunjukkan ketidaknyamanan, cemberut, atau langsung mengganti topik pembicaraan.

10. Sikap "Sok Tahu" atau Meremehkan. Mereka selalu mencoba memposisikan diri lebih unggul di setiap interaksi, misalnya dengan mengoreksi Anda di hadapan orang lain meskipun koreksinya tidak substansial.

11. Perbandingan yang Tidak Sehat. Sering membandingkan kinerja Anda dengan orang lain (biasanya dengan narasi yang merugikan Anda) untuk menyoroti kelemahan dan meredam potensi Anda.